logo blog
Selamat Datang Di Blog Kompi Males
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog Kompi Males,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.
Diberdayakan oleh Blogger.

Jual Beli Kucing, Ular, Tokek



TANYA

Assalamu alaikum..weroh matulahi waberokatuh...!!Apakah hukum nya boleh..jual beli kucing, ular dan tokek..!! Kepada the big famili PISS mohong bagi2 pengetahuan nya..!!?

JAWAB

Waalaikumsalam wa rohmatullaahi wa barokaatuh
Monggo damel sangu istirahat,,,,

Hukum jual beli kucing, ular dan tokek seperti dalam pertanyaan di atas terdapat perbedaan pendapat ulama. Menurut ulama Syafi’iyah tidak boleh karena tidak ada manfaat yang dilegitimasi oleh syara’. Sedangkan menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah boleh..

Menurut Syafi'iyah :

فلا يصح بيع حشرات لا تنفع وهي صغار دواب الارض كحية وعقرب وفأرة وخنفساء إذ لا نفع فيها يقابل بالمال وإن ذكر لها منافع فى الخواص بخلاف ما ينفع منها كضب لمنفعة أكلها وعلق لمنفعة امتصاص الدم قوله إذ لا نفع فيها يقابل بالمال اي لا نفع يعتبر ويقصد شرعا بحيث يقابل بمال لأنه المراد فالمدار على ان يكون فيه منفعة مقصودة معتد بها شرعا بحيث تقابل بالمال اهـ

Maka tidak sah menjualbelikan binatang melata yang tidak bermanfaat yakni binatang-binatang kecil yang melata dibumi seperti ular, kalajengking, tikus dan kumbang karena tidak ada manfaat darinya yang setara dengan harta (harga) meskipun terdapat manfaat secara khusus padanya, berbeda dengan binatang yang bisa memberi manfaat seperti biawak yang dapat bermanfaat saat memakannya karena dapat memperlancar darah.

Keterangan Pengarang “karena tidak ada manfaat darinya yang setara dengan uang” artinya tidak memberi manfaat yang dianggap dan menjadi tujuan dalam syara’ sekira sepadan dengan harta, ini yang di kehendaki. Maka tinjauannya adalah manfaat yang menjadi tujuan dan dianggap oleh syara’ sekira sepadan dengan harta”

al-Jamal III/25

Menurut Hanafiyyah :

وعبارته: (وهذا القول عند الحنفية) وكذلك يصح بيع الحشرات والهوام كالحيات والعقارب اذا كان ينـتفع بها. والضابط فى ذلك ان كل مافيه منفعة تحل شـرعا فإن بيعه يجوز

"Sah jual beli serangga dan binatang melata seperti ular dan kalajengking jika memang memberi manfaat, parameternya menurut mereka (madzhab hanafi) adalah semua yang bermanfaat itu halal menurut syara' karena semua (makhluk) yang ada memang di ciptakan untuk kemanfaatan manusia"

Alfiqh alaa Madzaahib al-arba'ah II/232

ولم يشترط الحنفية هذا الشرط (ان يكون البيع طاهرا لا نجسا) فأجازوا بيع النجاسات كشعر الخنزير وجلد الميتة لانتفاع بها الا ما ورد النهي عن بيعه منها كالخمر والخنزير والميتة والدم كما اجازوا بيع الحيوانات المتوحشة والمذحس الذي يمكن الانتفاع به فى الأكل والضابط عندهم ان كل ما فيه منفعة تحل شرعا فإن بيعه يجوز لأن الأعيان خلقت لمنفعة الإنسان

"Kalangan Ulama Hanafi tidak mensyaratkan sarat ini (barang yang dijual harus suci dan bukan najis) karenanya menurut mereka boleh menjual belikan barang-barang najis seperti bulu babi dan kulit bangkai karena bias di manfaatkan kecuali yang memang terdapat larangan untuk menjual belikannya seperti minuman keras, (daging) babi, bangkai dan darah sebagaimana mereka yang juga membolehkan binatang buas dan najis yang bias di manfaatkan untuk di makan, tolak ukurnya menurut mereka (madhab hanafi) adalah semua yang beranfaat itu halal menurut syara’ karena semua makhluk yang ada memang di ciptakan untuk kemanfaatan manusia”
al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuh IV/181-182

Menurut Malikiyyah :

ويصح بيع الحشرات والهوام كالحيات والعقارب اذا كان ينتفع به والضابط عندهم (المالكية) ان كل ما فيه منفعة تحل شرعا لان الاعيان خلقت لمنفعة الانسان بدليل قوله تعالى هو الذي خلق لكم ما فى الارض جميعا

“Boleh menjual belikan binatang melata dan berbisa seperti ular, kalajengking bila memang memberi manfaat tolak ukurnya menurut mereka (madhab maliki) adalah semua yang beranfaat itu halal menurut syara’ karena semua makhluk yang ada memang di ciptakan untuk kemanfaatan manusia dengan dalil firman Allah ta’aalaa (Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu – QS 2:29.)”

al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuh IV/446-447


>>

فرع) بيع الهرة الاهلية جائز بلا خلاف عندنا إلا ما حكاه البغوي في كتابه في شرح مختصر المزني عن ابن العاص أنه قال لا يجوز وهذا شاذ باطل مردود والمشهور جوازه وبه قال جماهير العلماء نقله القاضى عياض عن الجمهور وقال ابن المنذر أجمعت الامة على أن اتخاذه جائز ورخص في بيعه ابن عباس وابن سيرين والحكم وحماد ومالك والثوري والشافعي وأحمد واسحق وأبو حنيفة وسائر أصحاب الرأي قال وكرهت طائفة بيعه منهم أبو هريرة ومجاهد وطاووس وجابر بن زيد قال ابن المنذر إن ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم النهى عن بيعه فبيعه باطل وإلا فجائز هذا كلام ابن المنذر واحتج من منعه بحديث أبى الزبير قال سألت جابرا عن ثمن الكلب والسنور فقال زجر النبي صلى الله عليه وسلم(المجموع - (ج 9 / ص229 )


>>
Jual beli kucing ditafsil, bila kucing rumahan mayoritas ulama termasuk kalangan syafi'iyyah memperbolehkannya sedang bila kucing LIAR diharamkan.

ومنها أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن ثمن الهرة قال القفال: المراد الهرة الوحشية إذ ليس فيها منفعة استئناس ولا غيره.قلت: مذهبنا أنه يصح بيع الهرة الأهلية نص عليه الشافعي رضي الله عنه وغيره.والجواب عن الحديث من أوجه ذكرها الخطابي.أحدها: أنه تكلم في صحته.والثاني: جواب القفال.والثالث: أنه نهي تنزيه.والمقصود: أن الناس يتسامحون به ويتعاورونه هذه أجوبه الخطابي لكن الأول باطل فإن الحديث في صحيح مسلم من رواية جابر رضي الله عنه والله أعلم.

Sebagian larangan jual beli adalah “sesungguhnya Nabi SAW melarang uang (dari penjualan) kucing”al-Qaffal berkata : Yang dimaksud adalah kucing liar karena tidak ada kemanfaatan didalamnya baik bersifat sebagai penghibur atau lainnya.

Aku (an-nawawy) berkata “Menurut madzhab kami (syafi’iyyah) bahwa menjual kucing rumahan boleh dan sah sebagaimana yang telah ditetapkan oleh as-Syaafi’i ra dam lainnya”

Sedang jawaban dari hadits diatas dapat diambil dari beberapa argumen seperti yang dikemukakan oleh al-Khiththooby :
1. Hadits diatas ditanyakan kesahihannya
2. Sebagaimana jawaban al-Qaffal diatas
3. Pelarangan dalam hadits diatas adalah pelarangan yang bersifat tanzih bukan mengarah pada pengharaman dalam pengertian melarang kebiasaan manusia yang saling toleransi dan mencari-cari kucing (untuk diperjual belikan hingga melailaikan segalanya dan tiada berfaedah).

Namun argumen yang pertama yang meragukan kesahihan hadits ini adalah batal karena hadits ini terdapat pada shahih Muslim dari riwayat sahabat Jabir ra.

Raudhah at-Thoolibiin I/422

وَيَجُوزُ بَيْعِ الْهِرَّةِ الْأَهْلِيَّةِ وَالنَّهْيُ عن ثَمَنِ الْهِرَّةِ كما في مُسْلِمٍ مُتَأَوَّلٌ أَيْ مَحْمُولٌ على الْوَحْشِيَّةِ إذْ ليس فيها مَنْفَعَةُ اسْتِئْنَاسِ وَلَا غَيْرُهُ أو الْكَرَاهَةُ فيه لِلتَّنْزِيهِ قال في الرَّوْضَةِ وَالْمَقْصُودُ أَنَّ الناس يَتَسَامَحُونَ بِهِ

Dan boleh menjual belikan kucing rumahan.Sedang pelarangan pengambilan uang hasil penjualan kucing dalam hadits Muslim dita’wil bahwa kucing yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah kucing liar karena tiada manfaat sebagai penghibur dan lainnya didalamnya atau kemakruhan tersebut tergolong makruh tanzih.An-Nawaawy dalam kitab ar-Raudhah menjelaskan “Yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah semua orang.
 Asnaa al-Mathaalib II/31

* (فرع)بيع الهرة الاهلية جائز بلا خلاف عندنا إلا ما حكاه البغوي في كتابه في شرح مختصر المزني عن ابن العاص أنه قال لا يجوز وهذا شاذ باطل مردود والمشهور جوازه وبه قال جماهير العلماء نقله القاضى عياض عن الجمهور وقال ابن المنذر أجمعت الامة على أن اتخاذه جائز ورخص في بيعه ابن عباس وابن سيرين والحكم وحماد ومالك والثوري والشافعي وأحمد واسحق وأبو حنيفة وسائر أصحاب الرأي قال وكرهت طائفة بيعه منهم أبو هريرة ومجاهد وطاووس وجابر بن زيد قال ابن المنذر إن ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم النهى عن بيعه فبيعه باطل وإلا فجائز هذا كلام ابن المنذر واحتج من منعه بحديث أبى الزبير قال سألت جابرا عن ثمن الكلب والسنور فقال زجر النبي صلى الله عليه وسلم عن ذلك) رواه مسلم * واحتج أصحابنا بأنه طاهر منتفع به ووجد فيه جميع شروط البيع بالخيار فجاز بيعه كالحمار والبغل والجواب عن الحديث من وجهين (أحدهما) جواب أبى العباس بن العاص وأبي سليمان الخطابى والقفال وغيرهم أن المراد الهرة الوحشية فلا يصح بيعها لعدم الانتفاع بها الا على الوجه الضعيف القائل بجواز أكلها (والثاني) أن المراد نهى تنزيه والمراد النهى على العادة بتسامح الناس فيه ويتعاوزونه في العادة فهذان الجوابان هما المعتمدان

CABANG
Menjual kucing rumahan boleh dan tidak ada perbedaan pendapat diantara kami (syafi’iyyah) kecuali pendapat yang dihikayahkan oleh al-baghowy dalam kitabnya ‘Syarh Muhtashar al-Mazany’ dari Ibn ‘Ash yang menyatakan tidak diperbolehkannya dan ini adalah pendapat yang SYADZ (ganjil), batal dan tertolak. Pendapat yang mashur memoerkenankannya dan inilah yang dipakai oleh mayoritas Ulama seperti keterangan yang dinukil oleh al-Qaadhi al-‘Iyaadh.

Ibn Mundzir berkata “Para Imam-Imam sepakat bahwa memeliharanya boleh, dan membolehkan juga menjual belikannya Ibn Abbas, Ibn Siriin, al-Hakam, Hammad, Imam malik, at-Tsauri, as-Syafi’i, Ahmad Bin Hanbal, Ishaq, Abu hanifah dan para cendekia lainnya.Senagian ulama cenderung memakruhkan menjual belikannya, diantaranya adalah Abu Hurairah, Mujahid, Thoowus, Jaabir Bin Zaid”
Selanjutnya Ibn Mundzir menyatakan “Bila terdapati pelarangan dari baginda nabi Muhammad SAW pelarangannya maka menjual belikannya batal, bila tidak maka boleh”

Sedang pendapat yang melarang berdasarkan hadits riwayat Abu Zubair, ia berkata “Aku bertanya pada sahabat Jabir tentang uang hasil penjualan anjing dan kucing, ia menjawab : Nabi SAW melarangnya” (HR. Muslim).

Para pengikut as-Syafi’i berargumentasi “ia adalah binatang suci yang bermanfaat dan ditemukan didalamnya semua syarat jual beli dengan masa khiyar maka boleh menjualnya sebagaimana keledai dan Bighal (peranakan keledai dan kuda).Argumentasi tentang hadits larangan diatas adalah :

1. Diambil dari jawaban yang dikemukakan oleh Abu Abbas Bin ‘Ash, Abu Sulaiman al-Khatthaabi, al-Qaffaal dan lainnya bahwa yang dimaksud dengan kucing dalam hadits nabi diatas adalah kucing liar, maka tidak boleh menjual belikannya karena tidak ada kemanfaatan didalamnya keculai menurut pendapat dhoif yang menyatakan bolehnya memakan dagingnya.
2. Yang dimaksud larangan dalam hadits diatas adalah larangan yang bersifat tanzih bukan mengarah pada pengharaman dalam pengertian melarang kebiasaan manusia yang saling toleransi dan mencari-cari kucing (untuk diperjual belikan).Dua argumen inilah jawaban yang mu’tamad (kuat dan terpilih) dalam mengurai hadits diatas.
Al-Majmuu’ ala Syarh al-Muhadzdzab IX/229.
Wallaahu A'lamu Bis Showaab.
Enter your email address to get update from Kompi Ajaib.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2013. Lintas Santri ucul - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger