Imam Syafi’i, Pecinta Ilmu Sejati (Bagian Ke-4)



Tahun 150 H / 767 M adalah tahun monumental bagi Syafi’i. Pada tahun itu, dua peristiwa penting terjadi, Abu Hanifah, yaitu Imam Mazhab Hanafi, pergi menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Kepergiannya disambut dengan lahirnya Imam Syafi’i di Kota Gaza, Palestina, pada bulan Rajab. Banyak juga riwayat yang mengatakan dia lahir di Asqalan atau di Yaman.
Imam Syafi’i bernama lengkap: Abu Abdillah Muhammad bin Abbas bin Utsman bin Syafii bin Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abd Al-Muthalib bin Abd al-Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib.
Dari sekian daftar panjang silsilah tersebut, Syafi’i bin Saib merupakan seorang sahabat Rasulullah. Dari sinilah kiranya, nama Imam Syafi’i di ambil. Kakek Imam Syafi’i itu sempat bertemu dengan Rasulullah SAW tatkala ia masih remaja. Bahkan lebih dari itu, ia sendiri sebetulnya masih memiliki hubungan darah yang cukup dekat dengan Nabi Muhammad. Moyang Syafi’i, yaitu Abd al-Muthalib adalah saudara laki-laki dari Moyang Nabi Muhammad yang bernama Hasyim.
imam syafiiSejak usia dua tahun Syafi’i kecil telah kehilangan seorang ayah. Fatimah, sang Ibunda yang masih cucu Ali bin Abi Thalib, lalu membawanya pergi ke tanah suci Mekah. Ia dibawa ke tengah-tengah sanak kerabatnya untuk melestarikan warisan leluhur, pun untuk menjauhkan Syafi’i dari suasana keterasingan diri setelah bapaknya meninggal. Dalam kondisi ekonomi yang kembang-kempis, ia mengasuh Sysfi’i kecil. Ia bekali Syafi’i dengan pendidikan yang cukup
Tentang proses belajarnya, Imam Syafii pernah bercerita:
“Aku hidup sebagai Yatim dalam asuhan Ibuku. Ia tidak mampu membayar seorang guru untuk mengajarku. Tetapi guru itu ridla dan senang jika aku menjadi penggantinya, maka setelah aku menamatkan Al-Qur’an, aku hadir di masjid dan berkumpul bersama para ulama untuk menghafal hadis dan masalah-masalah agama. Sementara tempat tinggal kami terletak di jalan bukit Al-Khaif. Aku menulis di atas tulang, setelah banyak, maka tulang-tulang yang berisi tulisan itu aku masukkan ke dalam sebuah bejana besar.” (Lihat DR. Muhammad bin AW, Al-Aqil, Manhaj Aqidah Imam Asy-Syafii, 2003, 17).
Demikianlah, kemiskinan ternyata tidak mampu menyurutkan semangat Imam Syafi’i untuk tetap belajar. Hal inilah yang membuatnya mampu menghafal Al-Qur’an pada usia 7 tahun. Saat itu, ia biasa belajar Al-Qur’an pada Ismail bin Qastantin, Qari kota Mekah. Ketekunan mempelajari Al-Qur’an sangat nampak pada dirinya, sampai-sampai menurut sebuah riwayat, ia dapat menghatmkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali dalam bulan Ramadhan.
Setelah menghafal Al-Qur’an dan belajar hadits, ia dikirim ibunya ke sebuah dusun di tengah-tengah gurun bersama suku Hudzail suku yang terkenal karena kefasihan bahasa dan tradisi puitisnya. Di sana, banyak guru-guru bahasa Arab yang sangat terkenal kepandaiannya. Selama kurang lebih 10 tahun, ia mukim di Hudzail. Waktu sebanyak itu ia gunakan untuk belajar sastra Arab sampai mahir dan banyak menghafal di luar kepala puisi-puisi  (Syair) karya Umru’u Al-Qais, Zuhair dan Jarir. Imam Syafi’i pun menjadi orang terpercaya dalam soal puisi-puisi kaum Hudzail.
Setelah puas mengecap dunia puisi Arab, pada usis 20 tahun, Imam Syafi’i baru mendalami ilmu fikih dan hadis di Madinah. Di sana ia belajar kepada Imam Malik yang reputasinya telah tersebar luas. Sebelum berguru kepada Imam Malik, dia sudah menghafal Kitab Muwatha’ ketika usianya baru 13 tahun. Waktu itu karena miskin, ia meminjam kitab tersebut lewat seorang penduduk Mekah yang kebetulan memilikinya. Selain Imam Malik atau Anas bin Malik, Imam Syafi’i juga berguru kepada Sufyan bin Uyainah, Muslim bin Khalid Az-Zanji dan Ibrahim bin Abu Yahya.
Dalam satu riwayat di kisahkan, ia pernah di tanya seseorang, “Bagaimana cara engkau menuntut ilmu pengetahuan? Imam Syafi’i menjawab, “Bagaikan seorang perempuan yang kehilangan anak semata wayang!” demikian ia menggambarkan semangat belajarnya. Dengan ilustrasi inilah, Syafi’i bersafari dari satu negeri ke negeri lainnya menuntut ilmu tanpa mengenal lelah.
Ketika Imam Malik meninggal dunia pada tahun 179 H, Syafi’i kembali lagi ke Mekah untuk menengok Ibunya. Saat itu usia Syafi’i sekitar 29 tahun.  Namun tidak lama kemudian, ia melanjutkan pengembaraan mencari ilmu ke Yaman, itupun dilakukan dengan susah payah. Sang Ibu dengan rela menggadaikan rumahnya seharga 16 dinar, gunan membekali Imam Syafi’i ke Negeri Yaman.
Di sana Syafi’i belajar sambil bekerja kepada seorang pejabat. Di negeri ini ia tidak lama karena ia telah di tuduh sebagai pengikut Alawiyin (salah satu kelompok Syi’ah) karena kepandaiannya dalam pengetahuan. Memang saat itu kelompok Alawiyin merupakan gerakan perlawanan (oposisi) yang menentang pemerintahan Abbasiyah. Harun Ar-Rasyid, khalifah Abbasiyah di era itupun memanggilnya, maka Imam Syafi’i dirantai dan di bawa ke Baghdad, pusat pemerintahan dinasti Abbasiyah kala itu.
Di sana Imam Syafii menghadap Khalifah Harun Al-Rasyid dan membuktikan ihwal kebenaran dirinya. Khalifah Al-Rasyid mempercayainya. Itupun setelah pembelaan Syafi’i diperkuat oleh Muhammad bin Hasan As-Syaibani, murid Imam Abu Hanifah yang duduk disampaing Khalifah Al-Rasyid. Bermula dari sinilah, kemudian Imam Syafi’i berguru kepada Muhammad bin Hasan As-Syaibani.
Setelah memperoleh ilmu dari ulama Irak, ia kembali lagi ke Mekah untuk menyebarkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di Mekah Imam Syafi’i mengawali karirnya sebagai guru di masjidilharam tempat dulu ia menuntut ilmu dari para ulama yang mengajar di  sana. Hampir 9 tahun Syafi’i menetap di Mekah. Tak aneh bila musim Haji ribuan orang dari seluruh penjuru dunia  datang ke Mekah. Mereka yang mendengar pemuda Quraisy yang ilmunya mengagumkan itu bersemangat untuk mengikuti pengajian-pengajiannya, sehingga Syafi’i semakin di kenal di berbagai negeri. Dan melalui halaqah-halaqah pengajian itulah awal mazhab Syafi’i mulai berkembang.
Pada 195 H, Imam Syafi’i yang bertubuh jangkung dan berkulit keputih-putihan kembali hijrah ke Baghdad untuk kedua kalinya. Karena namanya sudah terlanjur populer sebagai seorang alim yang tiada duanya, maka ia segera mendapat sambutan yang luar biasa di kalangan ulama Baghdad dan masyarakatnya. Banyak orang-orang yang pindah belajar kepadanya tatkala ia datang.
Imam Ibrahim bin Al-Harbi berkata, “Tatkala Imam Syafi’i datang ke Baghdad, di masjid Jami’ Al-Gharbi terdapat 20 buah halaqah, pengajian yang diadakan oleh ulama Ahli Ra’yu. Pada jum’at kedua, yang tersisa hanya tinggal dua atau empat saja.”
Kali ini Imam Syafi’i hanya tiga tahun menetap di Irak, setelah itu ia melanjutkan pengembaraan intelektualnya menuju Mesir pada tahun 199 H dalam usianya yang ke 50 tahun. Di sini, penduduk negeri itu menyebut Imam Syafi’i dengan gelar “Qahdi Asy-Syari’ah” (hakim syariat) meskipun ia sendiri tidak pernah menjabat di pemerintahan. Kemudian ia banyak mengajar di masjid Amr bin Ash. Dan di Mesir inilah Allah mencabut nyawa sang pembela Sunnah ini.
Imam Syafi’i meninggal di Fustat (Kairo) pada tahun 204 H / 820 M di masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun dengan meninggalkan beberapa karya yang terus hidup hingga kini. Diantaranya Kitab Al-Risalah, yang di tulis sewaktu Imam Syafii berada di Mekah, Al-Hujjah ketika beliau mukim di Baghdad, dan Al-Umm di saat ia hijrah ke Mesir serta kitab-kitab lainnya.
Previous
Next Post »